HUJAN TERAKHIR BERSAMAMU.
Laki-laki ini mencengkram
erat kepalanya. Ditengah hujan, dia masih
harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan otaknya. Bay, begitu Laki-laki
ini disapa. Menangis di tengah hujan
yang deras memang efektif karena tetesan
air matapun takkan terlihat.
Bay berjalan
di koridor kelas dengan lesu. Bagaimana tidak, fikirannya benar-benar sedang
kacau, apalagi kalau bukan karena cinta.
Tepatnya karna Mela si gadis cantik yang mempesona itu, Mela sebenarnya gadis
biasa, hanya saja cinta yang membuat Mela terlihat tak biasa dimata Bay. Mungkin
bay melihat mnggunakan mata hati Mungkin.
Tak ada yang
buruk dari mengenal mela. Hanya saya Mela terlalu untuk bay. Terlalu baik,
terlalu cantik, terlalu Pintar.. Nyaris sempurna. Dulu, bay tidak suka pada Mela
bahkan bay membencinya. Tapi sekarang ??
Ia menyukainya. Atau mencintainya munkin.
“Bay kamu
baik-baik saja ??” Suara itu suara yang
sudah tak asing lagi di telinga Bay. Dan benar saja ketika Bay melihat siapa
orang itu ternyata mela.
“aku ? Aku
baik-baiksaja.” Jawab Bay. Sungguh dibalik kata baik-baik saja ada kata tidak
dalam keadaan baik yang tersembunyi. Yah
itu memang kebiasaan Bay yang sering menutupi prasaan sedihnya
Seperti biasa
Bay duduk disamping Ricky. Ricky adalah laki-laki yang pintar, tampan dan mudah
bergaul. Ricky adalah sahabat Bay, ia sering bercerita banyak tentang Mela dan
meminta saran kepada Ricky .
Waktu itu
hujan sangat lebat. Bay dan Ricky menunggu hujan itu berhenti. Ricky sibuk
mengamati hujan, sedangkan Bay justru menikmatinya. Aroma hujan, Bay selalu
menyukai itu. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah musik ditelinganya. Bay
menikmati itu sampai dia tahu bahwa Mela memberikan jaketnya untuk Iqbal. Bay
benar-benar cemburu hingga dia lepas kendali “Bay maaf, aku enggak mau semua
berakhir sampai disini ??”
Bay sempat
bingung dengan isi pesan singkat mela. Kata-katanya sedikit sulit untuk dicerna
oleh otaknya. Bahkan butuh waktu yang sedikit lama untuk memikirkan kata-kata
Mela. Tetapi akhirnya Bay menjawab “Apa yang berakhir?? Nggak ada yang
berakhir. Semua akan sama seperti dulu maaf, tadi aku emang lagi emosi. Jangan
berlebihan menanggapinya. Nothing gonna change mela, trust me. Tiba-tiba Bay
tersadar dari lamunannya karena guru sudah memasuki kelas.
Lagi-lagi
matanya kembali menangkap sosok mela. Mela sibuk dengan laki-laki itu. Target
baru mungkin. Bay pura-pura tidak mempedulikannya. Bay harus fokus ini demi
mimpinya juga kebahagiaannya.
Jam tambahan
pun berakhir. Semua anak-anak sibuk mengobrol sana-sini membicarakan rencana
mereka sepulang jam tambahan. Bay sedang fokus membereskan buku-bukunya.
Memastikan bahwa tidak ada satupun barangnya yang tertinggal. Tapi tiba-tiba
sosok itu mengusiknya, lagi.
“Tidak , Hanya
inggin melihat kamu Bay yang fokus benar-benar lain ya.” Bay mengangkat sudut
bibirnya ketika mendengar kata-kata Mela. “Eh ?? Bay tersenyum “ Setelah
mendengarnya, Bay segera merubah raut wajahnya. Bay menyesali senyumannya tadi.
Harusnya ia tidak memberikan senyuman berharganya itu kepada Mela Si pemberi
harapan Palsu.
“Bay, ada yang
mau aku bicarakan kita keluar sebentar yah” . Bay dan Mela keluar bersama
sebelum teman-temannya melihat. Ketika Mela mengajak Bay mengobrol ditempat
teduh, Bay menolaknya. Bay beralasan kalau saat ini hanya hujan. Hujan air dan
lagi pula Bay suka hujan.
“Mau bicara
apa??” Tanya Bay
“Kamu kenapa
?? Akhir-akhir ini kamu menjauhiku. Kamu nggak pernah mengirimku pesan singkat.
Bahkan seperti kamu membenciku. Aku salah apa sama kamu??” jawab Mela yang
kembali bertanya
“Semuanya
sudah berakhir”
“Berakhir?
Maksudmu? Apa yang berakhir?
“Kita”
Beberapa menit
kemudian Bay meralat kata-katanya “maksudku bukan kita. Tapi aku dan kamu. Bukankah
aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita ?”
“Kamu ini
bicara apa Bay. Siapa yang bilang kalau kamu dan aku tidak akan pernah menjadi
kita ?”
“Takdir. Takdir
memang tak pernah berkata tentang hal itu. Tapi, takdir menunjukannya.”
“Takdir tak
pernah menunjukkan itu Bay!!” Jawab Mela tegas
“Tak pernah ?
Bagaimana dengan kebudayaan kita ? Bukankah itu cukup menunjukan kalau kita
tidak bisa bersama? Kamu lembut aku keras, kamu api sedangkan aku air. Kita berbeda,
bahkan jika kita bersama maka kita akan menghancurkan satu sama lain.”
Hujan semakin
deraass. Sebanyak air hujan itulah air mata Bay yang ditahannya. Mungkin untuk
terakhir kalinya, Bay inggin Mela mengingat senyumannya, bukan tangisnya.
“Kenapa kamu
menginginkan ini berakhir?? Bukankah terlalu awal mengakhirinya ??” tanya Mela
“Aku?? Aku tak
pernah mengatakan inggin mengakhiri semuanya. Sekali lagi, mungkin lidah mu terlalu
keluh untuk mengatakan bahwa semua ini telah berakhir. Tetapi kamu berhasil
menunjukan. Kamu menunjukan tanda-tanda bahwa kamu ingin mengakhirinya.” Jawab Bay
“Bay, Dulu aku
kan pernah bilang kalau aku enggak mau....” Ucap Mela terpotong karena Bay
segra menjawab
“Itu dulu, Sekarang
???, tanda-tandanya sudah jelas bahwa kamu inggin mengakhirinya.” Jawab Bay
Hening. Mela tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Tak pernah
terfikirkan oleh Mela kalau Bay akan mengatakan hal-hal seperti ini. Mela tak
tahu apa yang membuat Bay berubah seperti ini
“Lagipula,
kamu sekarang udah punya pacar, kan ??” kata Bay yang seperti inggin menyindir
Mela “Pasti kamu bingung aku tahu dari mana kalau kamu sudah punya pacar.”
Sambung Bay sambil memaksakan senyum
pada wajahnya.
“Passtinya. Kamu
ini jangan-jangan penguntit aku yah.” Mela benar-benar tertawa lepas dengan
jawwaban tadi. Bahkan Bay ikut terkekeh dengan jawaban Mela.
Tiba-tiba Bay berhenti tertawa. Dia memperhatikann Mela
yang masih tertawa lepas. Mungkin ini terakhir kalinya Bay melihat Mela tertawa
karnanya dan bersamanya. Bay menatap wajah Mela lekat-lekat. Ia mencoba
mengingat setiap lekuk wajah Mela. Jika Tuhan tak mengizinkannya untuk memiliki
Mela, maka biarkanlah Bay memiliki kenangan tentang Mela. Tetapi Bay tak inggin
mengingatnya kenangan ini setiap saat. Biarkanlah hujan menyimpan kenangan
antara Bay dan Mela.
Tanpa sadar
Bay menitihkan setetes air matanya. Dia berbalik membelakangi Mela. Pundaknya bergetar
hebat. Tangisannya benaar-benar tak bisa ditahan lagi. Suara tangisannya pecah
diantara lebatnya hujan. Mela segera menghentikan tawanya. Dia menatap punggung
itu. Punggung laki-laki yang sempat menjadi tempat pertama saat sedih maupun
senang. Mela tahu betapa rapuhnya laki-laki ini.
Bay segera
menghapus air matanya. Mengatur suaranya agar tak bergetar saat berbicara
dengan denis nantinya. Bay membalikan tubuhnya dan tersenyum kaku saat melihat
Mela. Mela membalas senyuman Bay dngan tulus. Bay tak tahu harus bagaimana atas
seuatu yang telah berakhir. Yang terbesit dibenaknya adalah betapa bodohnya
dia. Bay juga tahu bahw hujan akan membawanya pada kenangan antara dia dan
Mela, tetapi pada saat hujan berhenti kenanggan itu sedikit demi sedikit akan
menghilang.
Bay beranjak
dari tempatnya. Begitu juga dengan Mela. “Sepertinya aku harus pulang, hujannya
semakin deras dan kamu juga harus pulang” kata Bay
“Aku harap
setelah hujan ini akan ada pelangi. Pelangi yang menghubungkan aku dengan
pasanganku, dan kamu dengan pasanganmu.” Sambung Bay
Bay pergi
meninggalkan Mela lebih dahulu. Bay kini sadar bahwa tak selamanya putri baik
untuknya. Dan hujan? Terimakasih untuk hujan karena bersedia menjadi pengingat
kenangan yang aku miliki
Terimakasih sudah
membaca ^_^
Memory 18 juni
:’)