Rabu, 15 April 2015

Hujan Terakhir Bersamamu



HUJAN TERAKHIR BERSAMAMU.

Laki-laki ini mencengkram erat kepalanya. Ditengah hujan, dia masih  harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan otaknya. Bay, begitu Laki-laki ini  disapa. Menangis di tengah hujan yang deras  memang efektif karena tetesan air matapun takkan terlihat.

Bay berjalan di koridor kelas dengan lesu. Bagaimana tidak, fikirannya benar-benar sedang kacau,  apalagi kalau bukan karena cinta. Tepatnya karna Mela si gadis cantik yang mempesona itu, Mela sebenarnya gadis biasa, hanya saja cinta yang membuat Mela terlihat tak biasa dimata Bay. Mungkin bay melihat mnggunakan mata hati Mungkin.

Tak ada yang buruk dari mengenal mela. Hanya saya Mela terlalu untuk bay. Terlalu baik, terlalu cantik, terlalu Pintar.. Nyaris sempurna. Dulu, bay tidak suka pada Mela bahkan bay membencinya. Tapi sekarang ??  Ia menyukainya. Atau mencintainya munkin.
“Bay kamu baik-baik saja ??”  Suara itu suara yang sudah tak asing lagi di telinga Bay. Dan benar saja ketika Bay melihat siapa orang itu ternyata mela.

“aku ? Aku baik-baiksaja.” Jawab Bay. Sungguh dibalik kata baik-baik saja ada kata tidak dalam keadaan baik yang tersembunyi.  Yah itu memang kebiasaan Bay yang sering menutupi prasaan sedihnya

Seperti biasa Bay duduk disamping Ricky. Ricky adalah laki-laki yang pintar, tampan dan mudah bergaul. Ricky adalah sahabat Bay, ia sering bercerita banyak tentang Mela dan meminta saran kepada Ricky .

Waktu itu hujan sangat lebat. Bay dan Ricky menunggu hujan itu berhenti. Ricky sibuk mengamati hujan, sedangkan Bay justru menikmatinya. Aroma hujan, Bay selalu menyukai itu. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah musik ditelinganya. Bay menikmati itu sampai dia tahu bahwa Mela memberikan jaketnya untuk Iqbal. Bay benar-benar cemburu hingga dia lepas kendali “Bay maaf, aku enggak mau semua berakhir sampai disini ??”

Bay sempat bingung dengan isi pesan singkat mela. Kata-katanya sedikit sulit untuk dicerna oleh otaknya. Bahkan butuh waktu yang sedikit lama untuk memikirkan kata-kata Mela. Tetapi akhirnya Bay menjawab “Apa yang berakhir?? Nggak ada yang berakhir. Semua akan sama seperti dulu maaf, tadi aku emang lagi emosi. Jangan berlebihan menanggapinya. Nothing gonna change mela, trust me. Tiba-tiba Bay tersadar dari lamunannya karena guru sudah memasuki kelas.

Lagi-lagi matanya kembali menangkap sosok mela. Mela sibuk dengan laki-laki itu. Target baru mungkin. Bay pura-pura tidak mempedulikannya. Bay harus fokus ini demi mimpinya juga kebahagiaannya.

Jam tambahan pun berakhir. Semua anak-anak sibuk mengobrol sana-sini membicarakan rencana mereka sepulang jam tambahan. Bay sedang fokus membereskan buku-bukunya. Memastikan bahwa tidak ada satupun barangnya yang tertinggal. Tapi tiba-tiba sosok itu mengusiknya, lagi.

“Tidak , Hanya inggin melihat kamu Bay yang fokus benar-benar lain ya.” Bay mengangkat sudut bibirnya ketika mendengar kata-kata Mela. “Eh ?? Bay tersenyum “ Setelah mendengarnya, Bay segera merubah raut wajahnya. Bay menyesali senyumannya tadi. Harusnya ia tidak memberikan senyuman berharganya itu kepada Mela Si pemberi harapan Palsu.

“Bay, ada yang mau aku bicarakan kita keluar sebentar yah” . Bay dan Mela keluar bersama sebelum teman-temannya melihat. Ketika Mela mengajak Bay mengobrol ditempat teduh, Bay menolaknya. Bay beralasan kalau saat ini hanya hujan. Hujan air dan lagi pula Bay suka hujan.

“Mau bicara apa??” Tanya Bay
“Kamu kenapa ?? Akhir-akhir ini kamu menjauhiku. Kamu nggak pernah mengirimku pesan singkat. Bahkan seperti kamu membenciku. Aku salah apa sama kamu??” jawab Mela yang kembali bertanya
“Semuanya sudah berakhir”
“Berakhir? Maksudmu? Apa yang berakhir?
“Kita”

Beberapa menit kemudian Bay meralat kata-katanya “maksudku bukan kita. Tapi aku dan kamu. Bukankah aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita ?”
“Kamu ini bicara apa Bay. Siapa yang bilang kalau kamu dan aku tidak akan pernah menjadi kita ?”
“Takdir. Takdir memang tak pernah berkata tentang hal itu. Tapi, takdir menunjukannya.”
“Takdir tak pernah menunjukkan itu Bay!!” Jawab Mela tegas
“Tak pernah ? Bagaimana dengan kebudayaan kita ? Bukankah itu cukup menunjukan kalau kita tidak bisa bersama? Kamu lembut aku keras, kamu api sedangkan aku air. Kita berbeda, bahkan jika kita bersama maka kita akan menghancurkan satu sama lain.”

Hujan semakin deraass. Sebanyak air hujan itulah air mata Bay yang ditahannya. Mungkin untuk terakhir kalinya, Bay inggin Mela mengingat senyumannya, bukan tangisnya.
“Kenapa kamu menginginkan ini berakhir?? Bukankah terlalu awal mengakhirinya ??” tanya Mela
“Aku?? Aku tak pernah mengatakan inggin mengakhiri semuanya. Sekali lagi, mungkin lidah mu terlalu keluh untuk mengatakan bahwa semua ini telah berakhir. Tetapi kamu berhasil menunjukan. Kamu menunjukan tanda-tanda bahwa kamu ingin mengakhirinya.” Jawab Bay

“Bay, Dulu aku kan pernah bilang kalau aku enggak mau....” Ucap Mela terpotong karena Bay segra menjawab
“Itu dulu, Sekarang ???, tanda-tandanya sudah jelas bahwa kamu inggin mengakhirinya.” Jawab Bay

Hening. Mela  tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Tak pernah terfikirkan oleh Mela kalau Bay akan mengatakan hal-hal seperti ini. Mela tak tahu apa yang membuat Bay berubah seperti ini

“Lagipula, kamu sekarang udah punya pacar, kan ??” kata Bay yang seperti inggin menyindir Mela “Pasti kamu bingung aku tahu dari mana kalau kamu sudah punya pacar.” Sambung Bay  sambil memaksakan senyum pada wajahnya.

“Passtinya. Kamu ini jangan-jangan penguntit aku yah.” Mela benar-benar tertawa lepas dengan jawwaban tadi. Bahkan Bay ikut terkekeh dengan jawaban Mela.
Tiba-tiba  Bay berhenti tertawa. Dia memperhatikann Mela yang masih tertawa lepas. Mungkin ini terakhir kalinya Bay melihat Mela tertawa karnanya dan bersamanya. Bay menatap wajah Mela lekat-lekat. Ia mencoba mengingat setiap lekuk wajah Mela. Jika Tuhan tak mengizinkannya untuk memiliki Mela, maka biarkanlah Bay memiliki kenangan tentang Mela. Tetapi Bay tak inggin mengingatnya kenangan ini setiap saat. Biarkanlah hujan menyimpan kenangan antara Bay dan Mela.

Tanpa sadar Bay menitihkan setetes air matanya. Dia berbalik membelakangi Mela. Pundaknya bergetar hebat. Tangisannya benaar-benar tak bisa ditahan lagi. Suara tangisannya pecah diantara lebatnya hujan. Mela segera menghentikan tawanya. Dia menatap punggung itu. Punggung laki-laki yang sempat menjadi tempat pertama saat sedih maupun senang. Mela tahu betapa rapuhnya laki-laki ini.

Bay segera menghapus air matanya. Mengatur suaranya agar tak bergetar saat berbicara dengan denis nantinya. Bay membalikan tubuhnya dan tersenyum kaku saat melihat Mela. Mela membalas senyuman Bay dngan tulus. Bay tak tahu harus bagaimana atas seuatu yang telah berakhir. Yang terbesit dibenaknya adalah betapa bodohnya dia. Bay juga tahu bahw hujan akan membawanya pada kenangan antara dia dan Mela, tetapi pada saat hujan berhenti kenanggan itu sedikit demi sedikit akan menghilang.

Bay beranjak dari tempatnya. Begitu juga dengan Mela. “Sepertinya aku harus pulang, hujannya semakin deras dan kamu juga harus pulang” kata Bay

“Aku harap setelah hujan ini akan ada pelangi. Pelangi yang menghubungkan aku dengan pasanganku, dan kamu dengan pasanganmu.” Sambung Bay

Bay pergi meninggalkan Mela lebih dahulu. Bay kini sadar bahwa tak selamanya putri baik untuknya. Dan hujan? Terimakasih untuk hujan karena bersedia menjadi pengingat kenangan yang aku miliki


Terimakasih sudah membaca ^_^


Memory 18 juni :’) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar